Rabu, 26 Desember 2012

Mochi Khas Sukabumi

1.      Bahan -  Bahan
·         Tepung Ketan 1 kg
·         Tepung Tapioka  
·         Gula Pasir    1  Kg
·         Air (untuk melarutkan gula) 
·          Kacang Tanah  ¼  Kg
·          Wijen ¼ Kg
·         Essence   ¼ Botol
·         Vanili  4    Bungkus (Untuk Tambahan Tepung Tapioka)
·         Gula Halus Secukupnya 
·         Air,  (untuk adonan Tepung Ketan Secukupnya).

2.      Pembuatan Larutan Gula
-        Didihkan air 250 ml
-        Lalu tambahkan gula pasir, aduk hingga berbentuk karamel, Angkat.
3.      Penyangraian
-        Sangrai tepung tapioka hingga mengkilat. Lalu tambahkan vanili.
-        Sangrai wijen, hingga tidak terasa pahit.
4.      Proses pembuatan
a)      Pembuatan Adonan
-        Tepung ketan diaduk dengan air secukupnya, hingga adonan dapat dibentuk bulat,
-        Kemudian adonan di pipihkan.
b)     Perebusan
-        Didihkan air pada wajan besar,
-        Kemudian masukan adonan ketan yang sudah dibentuk pipih, pada air yang sudah mendidih tersebut (sekitar 30 menit).
c)      Pengocekan
-        Adonan ketan yang sudah direbus , kemudian diangkat (disaring),
-         Masukan kedalam mixer, tambahkan essence, lalu aduk.
d)     Pencetakan
-        Angkat adonan dari mixer, lalu taruh pada loyang bolu,(Sebelumnya loyang ditaburi tepung tapioka),
-        Simpan dalam frizzer sekitar 45 Menit.
5.      Pembuatan Isi
1).    Isi Kacang
-        Sangrai kacang hingga matang,
-        Sortasi kacang dari kulitnya,
-        Giling kacang dengan blender
-        Campurkan hasil gilingan kacang dengan gula halus ( ½ kantong)
2).    Isi Keju
-        Parut keju jangan terlalu bubuk.

6.      Pembentukan Moci
A.      Angkat adonan dari frezzer, potong menjadi bentuk dadu,
B.       Isi dengan kacang atau keju, kemudian bulatkan, taruh pada tepung tapioka yang sudah disangrai, atau taruh di atas wijen yang sudah di sangrai
C.      Kemas.
Posted on by asep parizal Sukabumi | No comments

Selasa, 18 Desember 2012

Curug Cangkuang- Sukabumi



Curug Cangkuang atau Curug Cidahu ini berada dalam kawasan Wana Wisata Cangkuang di kaki Gunung Salak.  Curug Cangkuang ini berada di aliran sungai Cikuluwung dengan warna dasar sungai yang kuning kehijauan akibat endapan belerang sehingga membuat dasar sungai ini begitu jernih dan indah.  Selain itu suhu air sungai ini terasa hangat-hangat kuku cocok untuk berendam.  Apalagi, air sungai yang mengandung asam sulfida ini diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit kulit.
Adapun kawasan Wana Wisata Cangkuang ini berada pada ketinggian 1.300 hingga 2.000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara  antara 18 hingga 20 derajat Celsius. Curah hujan disini cukup tinggi 3.900 – 4.500 milimeter per tahun. 
Selain Curug Cangkuang juga terdapat beberapa curug lain (ada sekitar 7 curug) yang di temui di kawasan ini seperti Curug Dua Unak yang berjarak sekitar 2 km, Curug Sawer, Curug Aul dan Curug Supit yang masing-masing berjarak sekitar 1 km dari Curug Cangkuang tersebut.
Lokasi
Terletak bersebelahan dengan Javana Spa, tepatnya di Desa Cidahu, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Peta dan Koordinat GPS: 6° 43' 21.88" S 106° 45' 45.22" E  
Aksesbilitas
Berjarak kurang lebih 12 km dari pinggir jalan Raya Sukabumi ke area Wana Wisata Cangkuang.  Sedangkan  untuk menuju Curug Cangkuang tersebut masih membutuhkan waktu tempuh sekitar 1-2 jam perjalanan dengan berjalan kaki atau sekitar 1 km dari pinggir jalan aspal (dekat pintu masuk gerbang) dengan melewati kawasan hutan pinus.
Dari jalan raya utama Ciawi-Sukabumi belok kanan, masuk setelah pasar CIcurug.  Arah masuk ditandai dengan papan penunjuk berukuran besar ke Javana Spa.  Cara lain adalah menanyakan kompleks pembotolan untuk minuman mineral Aqua.  Setelah masuk jalur ini ikuti saja jalan aspal yang terbaik hingga ke kawasan wisata. Namun hati-hati karena beberapa tanjakan memiliki gradien di atas 45 derajat. Mobil harus ekstra kerja keras untuk dapat menanjak.
Tiket dan Parkir
Tiket masuk menuju wana wisata ini adalah Rp 5000 per orang.  Sebelumnya ada pungutan retribusi desa kurang lebih 1 km sebelum pintu gerbang.
Fasilitas dan Akomodasi
Beberapa Akomodasi penginapan tersedia di sekitar kawasan curug ini dengan fasilitas yang dimilikinya cukup  lengkap. Salah satunya Pondok Cangkuang yang dikelola oleh Perum Perhutanidengan kisaran harga Rp 891.250,- yang termahal untuk wisma tiga kamar pada malam hari Libur Nasional. Sedang yang termurah seharga Rp115.000,- untuk satu kamar pada malam hari biasa.
Area berkemah dapat dijumpai disekitar pondok penginapan dan di kawasan hutan lindung dengan empat areal tempat berkemah.
Wisata Lain
1.       Kawah Ratu seluas 30 ha dengan jarak tempuh 3,5 km dari Pondok Cangkuang.  Disana terdapat air yang mengalir dengan suhu panas dan dingin. Selain itu masih ada sumber air panas, menyembur seperti air mendidih. Begitu juga asap tebal putih keluar dari sela batu-batu kawah berwarna hitam.
2.       Hutan lindung seluas empat kilometer persegi dan hutan alam yang menyelimuti kaki Gunung Salak.








Posted on by asep parizal Sukabumi | No comments

Curug Bibijilan-Sukabumi

Air Terjun Bibijilan berada di kawasan wisata Buni Ayu dan memiliki ketinggian sekitar 100 m dengan airnya yang dingin dan sejuk berwarna hijau tosca meluncur dari bebatuan kapur.  Air terjun ini bertingkat-tingkat dan setiap tingkatannya dapat didaki hingga puncaknya. Jika musim hujan tiba, Curug Bibijilan tidak diperbolehkan untuk dikunjungi karena debit airnya yang tinggi dan cukup deras. Curug ini juga sering digunakan sebagai arena panjat tebing dan flying fox.

Nama bibijilan berasal dari bahasa sunda yang berarti bermunculan, dengan kata lain air yang bermunculan dari dalam perut bumi (dari dalam gua) membentuk teras aliran air dan kolam-kolam kecil.
Air Terjun Bibijilan

Terletak di Kampung Lebak Nangka, Desa Kerta Angsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS: 7° 3' 23.76" S  106° 58' 45.73" E 

Air Terjun Bibijlan

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 40 km arah tenggara kota Sukabumi dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi dengan kondisi jalan beraspal dan sedikit berlubang.  Setelah setengah jalan menuju Sagaranten (1.5 jam), di sebelah kiri jalan ada pos – gapura bertuliskan Goa Buniayu PERHUTANI, masuk ke dalam melewati kebun pinus sejauh 1.5 km menuruni bukit dengan jalan beraspal lepas hingga tiba di pos penjagaan ke 2, di depan goa.  Lokasi Curug Bibijilan ini tak jauh dari pos ke dua ini.


 

Tiket dan Parkir

Tiket masuk (karcis Pemda) adalah Rp 4000/orang dan parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat masing-masing adalah Rp 2000 dan 4000/kendaraan.


Wisata Lain

Goa Buniayu, terletak kira-kira 3,3 km dari Curug Bibijilan.  Goa ini terdiri dari 2 buah goa, yang pertama adalah goa wisata dengan jarak sekitar 300 meter dan goa ini lebih sering ditujukan untuk wisatawan. Goa yang kedua ditujukan untuk kalangan profesional dengan jarak 2,5 Km dan dapat ditempuh antara 3 – 5 jam perjalanan. 

Posted on by asep parizal Sukabumi | No comments

Curug Cikaso-Sukabumi

Curug Cikaso sebenarnya bernama Curug Luhur, mengalir dari anak sungai Cikaso yang bernama Cicurug. Tapi oleh kebanyakan orang, curug ini lebih dikenal dengan nama Curug Cikaso.  Curug Cikaso terbentuk dari tiga titik air terjun yang berdampingan dalam satu lokasi dengan di bagian bawahnya terdapat kolam dengan warna

airnya hijau kebiru-biruan.  Kedua titik air terjun dapat terlihat dengan jelas sedangkan yang satu agak tersembunyi dengan tebing yang menghadap ke timur.  Masing-masing air terjun mempunyai nama masing. Yang kiri bernama Curug Asepan, tengah bernama Curug Meong dan kanan bernama Curug Aki.  Ketiga curug ini memiliki ketinggian sekitar 80 meter dengan lebar tebingnya sekitar 100 m.

Berkunjung ke Curug Cikaso sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bias sinar matahari yang baru terbit akan tercipta dengan jelas dari butir-butir halus cipratan air terjun.  Sebaiknya menggunakan jasa pemandu yang tersedia agar tidak tersesat karena untuk menuju lokasi curug ini tidak ada petunjuk jalan.  Biaya jasa pemandu berkisar Rp 50000 - 70000.

Di kawasan ini juga terdapat curug yang lain yaitu Curug Calem, Curug Cikatomas dan Curug Cigangsa yang berjarak tempuh ± 30 menit atau sekitar 10 km.

 

 

 

 

 

 

Lokasi

Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS: 7° 21' 40.13" S  106° 37' 3.88" E


Aksesbilitas

Berjarak tempuh sekitar 8 kilometer dari Surade, 15 kilometer dari Jampang Kulon, 30 kilometer dari Ujunggenteng, dan sekitar 110 kilometer dari Kota Sukabumi. Atau
+/- 70 km dari Palabuhanratu. Umumnya perjalanan menuju Curug Cikaso diawali dari kota kecil Surade yang memakan waktu tempuh sekitar setengah jam (berjarak tempuh sekitar 8 km) dengan kendaraan roda dua atau empat hingga tiba di pertigaan Jalan Cikaso dengan kondisi jalan yang berliku dan beraspal baik, namun di akhir perjalanan akan ditemui kondisi jalan mulai berbatu.  Bagi yang menggunakan kendaraan umum dapat naik angkot dari kota Surade dengan rute Surade - Cikaso.  Tarif angkot ini Rp 6000 per orang.  Turun di Jalan Raya Cikaso, di simpang tiga menuju curug.

Dari Simpang tiga (sebagai jalan masuk dan juga tempat parkit bagi yang membawa kendaraan) ini perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 2 km menuju lokasi melewati pematang sawah dan ladang penduduk.  Atau juga bisa menumpang truk pasir yang biasa lewat menuju curug ini. 
Selain itu dapat juga menggunakan sampan dengan menyusuri sungai Cikaso.  Sampan ini banyak tersedia di sekitar Jembatan Cikaso.  Waktu tempuh sekitar 15 menit dari warung dekat pertigaan atau persimpangan jalan menuju Curug Cikaso dan Curug Cigangsa.  Harga sewa sampan sekitar Rp. 70.000/sampan (untuk 12 penumpang).  Setelah sampai di dekat tepian daratan menuju curug, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh 100 m hingga tiba di lokasi curug.
Tiket dan parkir

Tiket masuk adalah Rp .............per orang.

Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang tersedia antara lain terdapat beberapa warung makan dan kios yang menjual suvenir.  Juga terdapat dua buah toilet.  Sayangnya tempat sampah tidak ada sehingga banyak sampah berserakan dimana-mana. Selain sampah yang dihasilkan oleh warung dan pengunjung juga sampah ini berasal dari limpahan dari hulu sungai air curug yang terbawa saat hujan besar dan banjir.

Wisata Lain

Beberapa objek wisata yang ditemui sekitar curg cikaso antar lain Jeram Seungkeu, Goa Aul dan muara serta pantai Cikaso
 























Posted on by asep parizal Sukabumi | No comments

Curug Caweni-Sukabumi

Curug Caweni-Sukabumi
Curug Caweni memiliki ketinggian terjunan air sekitar 15 m.  Salah satu ciri khas Curug Caweni adalah adanya sebuah batu setinggi 7 m yang terdapat di tengah-tengah air terjun.  Konon batu tersebut adalah Arca Caweni, putri yang pernah berkuasa di Cidolog.  Nama Caweni atau cawene dalam bahasa sunda berarti 'randa bengsrat', janda yang masih suci karena berpisah sebelum melakukan hubungan intim dengan suaminya.

Legenda
Masyarakat Cidolog, dan juga masyarakat Pajampangan pada umumnya, meyakini bahwa patung batu setinggi tujuh meter itu merupakan hasil perubahan wujud Nyi Caweni atau Putri Caweni.  Dalam cerita rakyat yang berkembang di Cidolog, Nyi Caweni adalah perempuan jelita yang telah menikah 99 kali. Dari jumlah itu, 98 suaminya dikisahkan meninggal dunia pada malam pertama. Yang lolos dari "maut di malam pertama" hanyalah suaminya yang terakhir, Raden Boros Kaso.  Berbeda dengan suami-suami Nyi Caweni sebelumnya yang hanya orang-orang biasa, Boros Kaso adalah seorang keturunan bangsawan, kesatria yang berilmu tinggi. Setelah mengetahui jejak rekam Nyi Caweni, ia melewatkan malam pertama dengan sangat waspada. 
Boros Kaso memutuskan untuk tidak melakukan hubungan intim pada malam pertama, dan ia pun tidak tidur untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Malam pertama dan malam kedua, tak ada apa-apa. Barulah pada malam ketiga. Boros Kaso menemukan jawaban atas misteri istrinya. Ketika Nyi Caweni sedang tidur, dari selangkangannya tiba-tiba keluar seekor ular berbisa.   Boros Kaso yakin itulah penyebab kematian beruntun itu.  Dengan kesaktiannya, Boros Kaso lalu menangkap sang ular dan menyimpannya di suatu tempat.
Pagi hari selepas sarapan, Boros Kaso berpamitan kepada istrinya. Sebagai seorang kesatria, ia tak bisa mengelak dari tanggungjawab untuk mendahulukan kepentingan umum.  Untuk itu ia harus pergi demi menyelesaikan tugas yang diamanatkan kepadanya. Boros Kaso berjanji akan kembali kepada Nyi Ca-weni.  Namun ia juga berpesan jika dalam waktu tertentu ia belum juga datang, dia mempersilakan Nyi Caweni untuk menyusulnya. Jika Nyi Caweni menemukan tapak kaki Boros Kaso pada batu, ia harus menunggu di sana meski dalam waktu yang sangat lama! Dengan penuh cinta, meski jelas berat hati, Nyi Caweni melepas kepergian suaminya.
Waktu berlalu, akhirnya Nyi Caweni memutuskan untuk menyusul Boros Kaso yang tak kunjung datang. Dia berjalan menyusun sungai yang kini dinamakan Ci Dolog. Di sungai itu, di sebuah air terjun, ia menemukan jejak tapak kaki orang yang dicarinya. Nyi Caweni sangat yakin itu adalah jejak suaminya dan ia pun memutuskan untuk menunggu di sana. Menunggu sangat lama hingga tubuhnya berubah menjadi batu yang kinidisebut arca Putri Caweni.

Lokasi
Terletak di Kampung Cilutung, Desa Cidolog, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS:


Aksesbilitas
Berjarak sekitar 86 km ke selatan dari pusat kota Sukabumi atau sekitar 25 km dari kecamatan Segaranten atau hanya sekitar 200 m dari jalan lintas menuju Tegalbuleud tak jauh dari pusat Kecamatan Cidolog.  Kondisi jalan menuju ke sana lumayan mulus beraspal dan dapat ditempuh segala jenis kendaraan baik roda dua atau empat.
Dari tempat parjir kendaraan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuruni anak tangga yang berkelok dan licin sejauh kurang lebih satu kilometer hingga tiba di lokasi curug berada.

Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang tersedia sudah ada seperti, lokasi parkir dan WC serta tempat ganti pakaian, tetapi sayangnya pemeliharaannya tidak ada bahkan dibiarkan tak terurus.
Selain itu ketiadaan, warung atau toko penjual makanan dan minuman pun sulit ditemui.  Satu-satunya penjual makanan dan minuman berada di jalan raya Cidolog, sekitar 200 meter sebelum ke Curug Caweni.  Oleh karena itu disarankan membawa bekal jika ingin berwisata ke tempat ini. 



















Posted on by asep parizal Sukabumi | 1 comment

Selasa, 20 November 2012

Sari Buah dan Sirup Buah

PENGOLAHAN SARI BUAH DAN SIRUP BUAH

Buah- buahan dapat diolah menjadi berbagai olahan produk seprti sari buah, sirup, manisan, selai (jam), jelly, anggur buah, acar dan lain-lain.  Pembuatan sari buah dan sirup buah pada prinsipnya sama , kecuali penambahan gula dan cara penyajiannya. Sari buah bisanya langsung diminum dan tanpa mengalami fermentasi, kadar gula yang terkandung berkisar 12-14%, sedangkan sirup buah penggunaan gula sampai 60% dan dikonsumsi setelah dilakukan pengenceran.
Untuk memperbaiki ”performance” kedua produk tersebut sering juga ditambahkan BTM ( Bahan Tambahan Makanan) yang berfungsi untuk memperbaiki warna, kemanisan, pengawet dan penstabil. Proses pembuatan meliputi kegiatan pemilihan buah, pngupasan dan pemotongan, penghancuran, ekstraksi ( pengambilan sari buah), pengendapan, pemasakan, penambahan gula dan bahan lain, pasteurisasi dan pembotolan.
A.     Buah
Buah yang digunakan dalam pembuatan sirup  harus berada dalam keadaan cukup matang dan segar. Buah harus memiliki kriteria :
1).    Buah sudah tua (mature )
2).    Sudah matang (lunak)
3).    Belum mulai membusuk
4).    Bau harum
5).    Tidak cacat fisik ( pecah atau diserang hama)
B.      Gula. 
Gula dipergunakan sebagai pemanis, memiliki peran yang besar pada penampakan dan cita rasa sirup yang dihasilkan. Disamping itu, gula juga bertindak sebagai pengikat komponen flavor. Pemanis yang paling umum digunakan dalam pembuatan sirup yang dalam kehidupan sehari dikenal sebagai gula pasir. Untuk sirup buah dalam 1 l sari buah tambahkan 600 gr gula pasir (60%) dan sari buah 120 gr gula pasir (12%).
C.      Asam Sitrat. 
Asam sitrat termasuk dalam golongan flavor enhancer atau bahan pemicu rasa. Bahan pemicu rasa merupakan bahan tambahan yang diberikan pada suatu produk pangan untuk memberikan nilai lebih pada rasa, sesuai dengan karateristik produk pangan yang dihasilkan. Biasanya, bahan pemicu rasa hanya ditambahkan dalam jumlah kecil.     Di dalam pembuatan sirup , asam sitrat digunakan untuk mengatur pH, terutama yang menggunakan buah-buahan dengan tingkat keasaman yang rendah sehingga tidak cukup untuk menghasilkan pH seperti yang diinginkan.
Penggunaan asam sitrat juga berfungsi untuk memberikan rasa dan aroma yang khas pada sirup, meningkat flavor ( mengimbangi rasa manis), serta memperpanjang umur simpan ( mengawetkan ) sirup tersebut. Umumnya penambahan asam sitrat dilakukan hingga pH sari buah yang dihasilkan mencapai ± 4,5 yaitu pH yang diinginkan untuk sari buah . Namum, sari buah yang telah cukup asam, tidak perlu ditambah asam sitrat.
D.     Pewarna. 
Pewarna ditambahkan ke dalam minuman atau sirup buah karena beberapa alasan, diantranya adalah untuk memperbaiki warna aslinya, untuk memperoleh warna standar, dan untuk menarik konsumen. Pada umumnya, pewarna yang ditambahkan ke dalam sirup adalah berupa pewarna sintetik. Adapun pewarna yang digunakan antara lain adalah tartrazine dan karamel .
E.      Bahan Pengawet.
Fungsi utama dari penggunaan bahan pengawet adalah untuk mencegah pertumbuhan mokroorganisme dalam bahan pangan sehingga masa simpan makanan atau minuman dapat diperpanjang. Penggunaan bahan pengawet kimia mempunyai beberap keuntungan, antara lain yaitu makanan atau minuman dapat tetap awet meskipun disimpan pada suhu kamar. Namun apabila sirup buah yang dibuat hanya sedikit dan lansung dikonsumsi, tidak perlu ditambah dengan bahan pengawet. Bahan pengawet yang paling umum digunakan untuk sari buah adalah natrium benzoat. Natrium benzoat memiliki bentuk kristal putih, rasa manis dan kadang-kadang sepet. Garam natium benzoat ini lebih mudah larut dalam air dari pada asam benzoat. Dalam pembuatan sirup buah, natrium benzoat dingunakan dengan dosis antara 0,05 % – 0,1 %. Penggunaan natrium benzoat pada kadar tersebut relatif tidak mempengaruhi rasa dan aroma sirup buah.
F.       Bahan Penstabil, 
merupakan suatu zat dapat berfungsi menstabilkan, mengentalkan atau merekatkan suatu makanan yang campur dengan air, sehingga dapat menbentuk cairan dengan kekentalan yang stabil dan homogen pada waktu yang relatif lama. Adapaun pencegah tersebut dapat dilakukan dengan pemanbahan bahan penstabil yaitu : Xantan gum 5 – 10 g /liter, Gelatin 5 – 10 g /liter, Karagenan 5 g /liter, Agar-agar 5 – 10 g /liter.
3. Pengolahan Sirup Buah
A.     Cara pengolahan sirup buah adalah :
1).    Buah yang masak ( 1 kg  ) dicuci dan dipilih yang baik, yang tidak cacat dan masih segar.
2).    Buah dikupas dan dibelah 4 bagian kemudian dicuci untuk menghilangkan getah dan kotoran lain .  Buah yang telah dicuci ditiriskan. Buah kemudian dikukus
3).    Selanjutnya buah dihancurkan dengan blender atau juice extractor . Buah yang diblender hancur beserta daging buahnya, sedangkan juice extractor akan didapat sari buahnya ( Filtrat) penggunaan alat ini sangat cocok untuk buah markisa, jambu biji, sirsak yang banyak kandungan airnya.
4).     Hancuran buah disaring dengan kain saring dan cairan sari buah ditampung dalam wadah , ampas sisa perasan digunakan digunakan untuk bahan pembuat selai (jam) buah
5).    Cairan sari buah disaring hingga tidak terdapat kotoran atau hancuran biji buah
6).     Cairan sari buah ditambahkan serbuk gelatin 2 gram, dipanaskan sepuluh menit sambil diaduk, galatin berfungsi untuk mengikat kotoran halus yang kemudian menggumpal dan diendapkan.
7).    Cairan disaring untuk memisahkan endapan kotoran dari sari buah jernih;
8).     Sari buah jernih ditambahkan gula pasir 600gram / 1 liter cairan buah, asam sitrat 3 gram dapat ditambah bahan pengawet Natriun benzoat 1 gram. Sari buah dipanaskan sampai suhu 80 C sambil diaduk 15 – 20 menit untuk melarutkan gula dan bahan lainnya.
B.      Cara pengolahan sari buah adalah :
1).    Filtrat yang didapat dapat diencerkan dengan perbandingan !:2 atau lebih untuk buah2 an yang beraroma kuat seperti buah kweni, nangka.
2).    Tambahkan gula sebanyak 120 gr/1 liter air filtrat dan bahan2 lain seperti asam sitra, pewarna dan pengawet.
3).     Untuk sari buah asam  dan pala tidak perlu ditambahakan asam sitrat. Perlakuan selanjutnya sama dengan sirup buah.
4. Pengemasan
Bahan sebagai pengemas harus tidak menyebabkan kontaminasi dengan sirup buah. Bahan yang biasa dipakai sebagai pengemas sirup buah adalah botol. Sebelum digunakan, botol harus dibersihkan  dahulu, kemudian sirup buah dimasukkan ke dalam botol satu persatu. Terakhir, botol ditutup rapat kemudian siap dilakukan pasturisasi. Sari buah dapat dikemas dengan kemasan cup dan ditutup dengan cup sealer.
5.  Pasteurisasi
Pasturisasi dilakukan dengan cara dipanaskan pada suhu 60 – 70 ºC selama 30 menit. Tujuan dari pasturisasi ini adalah untuk mematikan mikrobia-mikrobia bersifat patogen.
6. Pelabelan
Setelah dingin, sirup byuah diberi label. Label yang baik seharusnya menginformasikan tentang nama dagang, volume, bahan yang digunakan, bahan tambahan, tanggal kedaluwarsa, ijin depkes, label halal.




























\




Posted on by asep parizal Sukabumi | 26 comments